tita…

oleh : gemela zuniga

jalan masih panjang didepan. dia terus bertanya-tanya tentang kegelisahan. air sungai yang semula bergelombang dan tak tenang, seakan mengerti lalu diam mengalir seadanya. mungkin, ada hal kecil yang lalu menumpuk menjadi kotoran babi didalam sangkar burung merpati. ayah pernah berkata “ada dua hal yang paling menyakitkan, satu, hati yang bisu,, lalu, kendaraan roda empat yang lantang berjalan di jalan setapak.” selalu kubawa..entah bagaimana, aku melarat karena dosa. setelah tujuh tahun ketiadaannya, aku merasa sunyi, aku takut, aku harap kunang-kunang masih memberikan cahaya, aku tidak minta bunglon, aku bukan orang yang suka merubah haluan. jarak kaki tak sempat ku hitung, biarkanlah begitu, belum puitis rupanya. aku minta semoga bisa terlelap sampai malam kedua. sungguh, aku tak pernah membiarkan taplak meja menjadi kain alas hari terakhirnya. ternganga..air mata itu..

hai tita..ayah ku pernah berkata “cinta adalah tombak yang suatu saat akan menancap dihati yang benar-benar terluka.” terima kasih, pasti kau bertanya “ada apa lagi?” aku pastikan jawabannya, tapi setelah kau pergi, saat pohon sakura berubah menjadi pohon jati. susah memang, susah bila dilupa atau diingat. aku selalu berharap besok hari dimana kau lahir kembali, saat pertemuaan pertama disebuah gedung tua masa belanda. cantik..begitu kau biasanya, tetap indah dikalangan budha. aku pun begitu, selalu berkata sama lagi seperti ayahku. “dirimu adalah dirimu saat masih atau telah tiada.” adakala aku pun harus meghapus derian air mata saat terakhir kau ditutupi dengn tanah, tita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s