BUNG…

oleh : gemela zuniga

Apa yang pernah terbesit melihat seseorang terbaring kaku diatas lantai dasar yang basah. Kini jalinan kasih, katanya, tapi malah terhiraukan. Jauh dari pelupuk mata yang tajam, kulihat, rombongan yang merasa harus menindas membangunkannya yang sebenarnya tidak tidur. Sejak awal, aku hanya ingin menulis dalam bentuk monolog saja. Aku tidak tahu harus menulis percakapan apa. Bagaimana lagi, tapi, akan tetap kulanjutkan. Aliran sungai keruh dan berbau busuk itu, kini meluap sejadi-jadinya, kulihat orang disana masih saja memelihara tindakan kotor yang seharusnya dihindarkan agar tak jadi malapetaka. Bagaimana bisa, katanya, hanya ocehan yang dianggap keluhan yang tak perlu. Sedikit demi sedikit, air muka ku berubah, panas, memerah, keringat hanya dibalik helai kaos oblong ini. Ternyata masih banyak becak dan delman yang kukira hilang ditelan jaman. Ayah ku yang termasuk orang lama itupun kini sudah menggunakan layar yang bercahaya, tulisannya penuh dengan huruf-huruf yang disusun, lucu terkadang, terima kasih kepada globalisasi rupanya. Berhenti, disuatu lorong di kerumunan pasar, hari itu, sepertinya aku tak melihat kakek tua yang harus nya pensiun dari sebutan tukang pikul, pikul beras, kotak-kotak, yang kadang dibayar hanya dua ribu rupiah. Tetapi ia tetap menengadahkan kedua tangannya, ia berharap ia adalah golongan beruntung yang lahir didunia. Hari mulai senja, air bak mandi sudah terisi penuh, aku tidak tahu, mengapa orang-orang di tivi, selalu meributkan harga susu, atau mungkin ini permainan. Permainan apa lagi? aku juga belum mengerti benar, umurku masih lima belas kurang setengah. Tahun kelam, ibu belum pulang juga, malaysia atau arab saudi sama saja, lima tahun ibu disana, ketakutannya pasti merajalela, entah bagaimana nasibnya. Semoga adik adalah wanita setengah pria. Agar besok ia dapat membantu berbelanja. lalu..memasak untuk kami, aku dan dia. Tak akan ku sisahkan lauk dan sebutir nasi pun kepada orang tua selain ibu, dirumah gubuk yang hancur jika tiba-tiba angin biasapun menerpanya. Dia tidak bekerja, umurnya masih terbilang muda. Tapi ia bisa dibilang “hidup segan, mati segan tapi akan jadi bangkai juga.” Aku tak pernah mempersalahkannya, ia pemabuk, atau…apalah yang bisa kalian bilang…hanya ibu yang disia-siakan. Mungkin, dua puluh tahun lagi kami yang akan menyia-nyiakannya. Besok hari senin. Aku dipilih sebagai pembaca undang-undang dasar 1945. Kucoba melantangkan suara, agar tahu benar orang zaman itu, undang-undang yang katanya adalah patokan selain pancasila. Kini, terbenam. Sama saja dengan mereka yang berkhianat, radio juga berkhianat, pers bodoh yang dibodohi pula. Aku hanya dapat meredam kesal, sudahlah,karena itu belum berakhir, rupanya pemilu tahun 1997 juga masih mencurangkan atau dicurangkan, sayang aku belum bisa memilih…sayang sekali, generasiku belum bisa bertindak..tahun selanjutnya, tragedi trisakti, masih pilu, susah jika bisa ditulis dan diraba, aku melihatnya. Adikku dan ayah tertembak mati saat ibu pulang dari malaysia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s