TEMPU AWANG (Cerita daerah Sumatera selatan)

by : gemela zuniga

 Memang sekilas cerita ini mirip dengan cerita malin kundang yang berasal dari sumatera barat. Namun, cerita ini benar benar pernah terjadi di sebuah daerah di Sumatera Selatan.

Jaman dahulu kala disebuah daerah di palembang Sumatera Selatan. hiduplah seorang wanita dan anak laki-lakinya. mereka hidup dengan pendapatan yang serba kekurangan. Semenjak ditinggal oleh suaminya, menjadi orang tunggal bagi anak satu-satunya itu. dia bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari yaitu hanya untuk makan saja. Sedangkan kebutuhan lainnya yang diperlukan, harus mereka tinggalkan dulu untuk kepentingan tersebut. Beberapa tahun kemudian si anak telah beranjak dewasa. Dan suatu hari ia meminta izin kepada ibunya untuk merantau kenegeri seberang, dengan berat hati ibunya rela melepaskan anak semata wayangnya itu untuk merantau di negeri orang.setelah beberapa tahun kemudian, anak tersebut menemukan tambatan hati nya.dia seorang saudagar kaya raya.lalu dengan persetujuaan ayah sang wanita yang adalah tuan ditempat ia bekerja, sebagai kuli pengangkut beras, ia yang miskin itu akhirnya dengan gadis yang kaya itu, mereka menikah dengan hari yang telah ditentukan sang raja. Dan menjadi orang kaya pula. Beberapa bulan kemudian, ia dan istrinya serta para pengawal-pengawal nya dengan menggunakan kapal yang sangat besar. Mereka menyusuri sungai untuk berbulan madu dan juga sekaligus mengangkut berkarung-karung beras untuk dijual. Namun ternyata mereka terdampar disebuah tempat di  sekitar aliran sungai. Mereka harus berhenti karena ada kerusakan di salah satu bagian kapal. tempat terdamparnya kapal, ternyata adalah tempat asalnya. setelah sampai disana anak yang sombong itu dan istrinya dengan dikawal para pengawal mulai menyusuri pantai di pulau itu untuk mencari tempat berteduh sembari menunggu kapal nya yang sedang  diperbaiki. Lalu tiba-tiba ketika sedang menyusuri daerah sekitar sungai, datanglah seorang wanita tua yang tiba tiba memeluk nya. dengan terkejutnya, dia menghempaskan wanita tua itu ketanah dan berkata dengan kasarnya “siapa kau wanita tua ? berani beraninya kau memeluk ku !!! kau tak tahu siapa aku ? aku ini saudagar kaya !! kau yang kusam dan bau ini berani-berani nya memelukku ! kau tau, yang kau lakukan itu tak pantas kau lakukan dengan seorang saudagar yang kaya dan mulia sepertiku ! bedebah kau !” dengan suara yang lembut dan suara isak tangisnya. Dia menjawab “ya Allah, hai anakku apakah kau lupa dengan ibumu ini ? kenapa kau mencampakkan aku seperti itu ? kemana saja kamu nak ibu telah lama menunggu mu. Kau lama sekali tidak pulang mengunjungi ibu. Hukk..hukk..hukk” dengan wajah yang sangat marah dan tidak terima kalau ternyata wanita tua dan kusam itu ternyata ibunya “hai kau wanita tua ! hah janganlah kau mengaku-ngaku sebagai ibuku ! kau tau aku adalah saudagar yang kaya da tak mungkin mempunyai ibu seperti kau yang miskin dan bau ! ibuku tak mungkin memakai baju compang-camping seperti itu !” dengan tangis yang semakin menjadi-jadi karena perkataan anaknya yang kasar dan sombong itu. Ibu yang malang itu berkata “aku memang ibumu nak. Aku ingat sekali kalau kau adalah anak yang kulahirkan.” lalu di tengah perdebatan itu sang istri berkata “ kakanda, apakah itu benar-benar ibumu ? kenapa kau tak mengakui nya ?” seakan tak percaya istrinya berbicara seperti itu pula, ia pun nenjawab untuk meyakinkan istrinya “tidak adinda dia benar-benar bukan ibuku. Tak mungkin aku mempunyai ibu seperti itu ! sudahlah pergi kau bedebah. Aku bukan anak mu !” ibu yang malang itu dengan suara yang mulai serak akibat menangis melihat tingkah sombong anak yang ia lahirkan dengan susah payah itu berkata “inikah balasan mu, nak ? terhadap ibumu yang susah payah mengandung mu, melahirkan mu, dan merawat mu sampai sebesar ini ? apakah kau tak menyadari yang kau lakukan ini adalah dosa besar ?” anak yang durhaka itu sambil tertawa ia berkata “hah ? aku tak perlu kata-kata bohong mu wahai wanita miskin ! aku bukan anakmu dan aku tak pernah merasa telah dilahirkan oleh ibu yang miskin seperti mu ! pergilah kau bodoh. Pengawal ayo usir dia! Bawa dia pergi jauh-jauh dari ku ! aku tak mau melihat wanita miskin yang mengaku-mengaku sebagai ibuku ini! Cuiihh pergi kau !” dengan berat hati ibu yang malang itu pergi meninggalkan anak nya yang telah berubah menjadi orang kaya yang sombong itu. Walau sebelumnya ia sempat di seret-seret oleh para pengawal dan kata terakhirnya sebelum meninggalkan tempat itu “tak perlu kau minta para pengawal ini untuk menyere-nyeret ku,wahai kau anak durhaka. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Pergilah nak, aku memang bukan ibumu.” Dengan senyum yang lebar anak yang durhaka itu pun berkata “hah, baguslah kalau kau mau mengakui kebohongan besar mu itu ! kalau aku memang bukan anak mu ! kini kau dengar dinda pembohong ini telah mengakui kebohongan nya !!” Setelah kejadian yang miris yang banyak di saksikan para warga setempat. Akhirnya sang pengawal berkata “tuan saudagar kapal telah diperbaiki. Silakan anda masuk kembali.” Lalu dia dan istrinya serta para pengawal masuk dan meninggalkan tempat tersebut. Setelah kepergian anak yang durhaka itu, ibu yang malang kembali ke gubuk tuanya. Di bantu warga setempat untuk berjalan menyusuri rumah nya ia akhirnya ia sampai dirumah nya yang tak layak huni itu. Warga setempat yang sempat menyaksikan kejadian miris tadi kini kasihan melihat ibu yang tua itu. Mereka akhirnya meninggalkan ibu  yang tua itu, maksud mereka agar ibu itu dapat menenangkan dirinya. Setelah mengistirahatkan badan nya diatas papan kayu yang hanya dialasi dengan tikar. Ia tiba-tiba menangis, meratapi anak kesayangan nya yang dulu sangat patuh kepada orang tua nya kini menjadi orang yang sangat durhaka pada orang tua. Dengan sedih ia pun mulai berdoa “ya Allah apa salah hamba ya Allah ? kenapa anak yang dulu sangat patuh pada orangtua kini menjadi sangat sangat durhaka kepadaku ya Allah ? ampunilah aku, ya Allah. Hamba mohon ampunilah dosa-dosa hamba. Tapi kenapa ya Allah ? kenapa ia kini jadi pembangkang ? sekiranya engkau kabulkan doaku ini ya Allah, hamba minta ia menjadi keras seperti batu !! seperti hatinya yang congkang itu. “ dengan tangis yang terisak-isak, tiba-tiba angin kencang dan hujan yang sangat lebat itu datang dan turun. Ibu itu pun mulai ketakutan. Ditengah pelayaran mereka, anak durhaka dan istrinya serta para pengawalnya itu yang kini sedang berlayar. Tiba-tiba merasakan hembusan angin yang kencang dan  juga hujan yang turun begitu deras. Melihat hal tersebut, ia pun langsung masuk kedalam kapal untuk menyuruh sang kapten untuk memutar haluan. Karena air tiba-tiba pasang dan sangat berbahaya untuk berlayar. Namun, hal itu sudah terlambat kini datanglah badai besar dengan petir yang berbunyi sangat keras dan menyambar-nyambar. Membolak-balikan kapal yang ditumpangi oleh anak durhaka tersebut. Anak durhaka tersebut, beserta istri dan para pengawal juga awak kapal. Kini terpental keluar dan terombang-ambing diatas sungai yang dalam itu. Mereka meminta tolong namun tak ada seorang pun. Karena, hujan dan angin lebat seperti itu tak mungkin ada orang keluar rumah. Begitu juga dengan kapal yang mereka tumpangi kini terombang-ambing entah kemana. Lalu muatan berkarung-karung beras itupun kini menjadi batu-batu besar seperti bentuk karung. Sedangkan anak durhaka dan istri dan para pengawal dan juga kapalnya entah kemana pergi. Tak ada satu bentuk batupun yang berbentuk manusia ataupun bentuk kapal. Dan menurut dari narasumber yang saya dapat, tidak diketahui nama-nama dari “anak durhaka, ibunya, istri,dan para pengawal serta kapten kapal tersebut” dan juga jasad atau batu si anak durhaka tidak ditemukan. Banyak pendapat warga berada didalam sungai. Dan mitos warga setempat bahwa batu anak durhaka tersebut kini menjadi sebuah bentuk badan tengkurap bertumpuk tumpuk seperti tangga. Dan tangga itu sangat licin. itu menyebabkan banyak orang tergelincir dan jatuh kesungai. Bila tidak bisa berenang kita bisa mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s