CERPEN PROJECT :D

HANYA DETIK DALAM HUJAN ITU

Buku itu mungkin akan terendap oleh debu debu kotor jika hanya aku simpan dalam bilik jendela almari. Terkadang, aku pernah berpikir apakah ini buku atau kenangan penuh cerita ? sedih..hanya itu yang bisa aku ungkap dalam hati. Tak ada yang tahu..tak ada satupun yang tahu..apalagi kamu.. jika aku masih menyimpan kenangan atau buku atau apalah itu untuk tiga tahun terakhir ini. biasa..aku terbiasa untuk mengerti kalau kau memang hanya perempatan yang memaksa diriku untuk memilih. Dan aku sangat tertunduk..tertunduk bahagia atau terbelenggu dalam luka jika malam ini aku hanya bisa mengingat mu dari bintang yang paling terang bersinar diatas langit.

*

Satu..dua..tiga..tahun telah berlalu. Ternyata, aku bukan anak remaja yang masih bisa merengek karena putus cinta. Dewasa,impian terpentingku sekarang. Mama..Papa..tak lagi bisa berada disampingku. Jauh dari orang tua, ternyata lebih memusingkan daripada tak makan seharian. Hari hari berlalu begitu cepat,begitu juga materi yang diberikan dosen pagi ini. Huh..rasanya ingin melarikan diri saja tapi malas, kalau mendengarkan nyayian beo pak dosen yang satu ini. Kutunggu.. dan kelas DISMISS. Secepat mungkin aku keluar menuju halte dekat kampus. Kali ini aku benar benar ingin pergi ke sebuah rumah makan dekat malioboro. Dan juga pesanan ibu kos yang memintaku membelikan martabak bolu disekita situ. Lima belas menit menunggu, halte pun mulai sesak dengan gerombolan penumpang. Akupun bersiap agar tak kehilangan satu tempat duduk berharga. Dan inilah salah satu hal yang selalu mengembalikan aku pada ingatan tentang bus dan segala bentuk senyuman itu. aku tersenyum kecil dan pandangan ku mulai tertuju pada satu penumpang. Penumpang yang baru memasuki bus ini. Jeans dan sepatu kets nya, yang hampir cocok dengan kemeja dan ransel yang berwarna abu-abu. Berdiri tegak dan memegang tiang bus kota.Untuk kedua kalinya aku melihat kesederhanaan di balik auranya itu. Ternyata, dia orang itu. Lama tak berjumpa,rasanya aku begitu kehilangan untuk 3 tahun atau lebih.

*

“ohh..kamu duluan ya? ya udah deh, silakan” kata anak cowok yang dari tadi juga menunggu bis sama sepertiku. Aku heran, masih ada yang mau merelakan tempat duduknya. Yang jelas jelas dia tempati duluan. Maklum memang,kalau dia laki-laki. Tapi, dia juga sudah lama menunggu sama seperti aku agar tidak telat menuju sekolah. Dan hal yang paling mengherankan lagi. Ternyata, dia adalah anak yang bersekolah satu sekolah denganku. Aku tau itu dari lambang dibajunya.Entahlah..terima kasihpun aku belum sempat megucapkannya. Mungkin dua puluh menit lagi,pagar sekolah akan segera rapat dan tak ada satu murid pun yang akan diperbolehkan masuk. Tiba-tiba, bus berhenti dan seorang nenek membawa bakul sayur masuk mencari tempat duduk. Tak ada satupun. .Laki-laki ataupun perempuan. Tak mau mengalah, tetap duduk santai tanpa mau bergerak. Kuberikan tempat duduk ku untuk nenek itu. sambil tersenyum,kupersilahkan nenek itu dan mulai kuberanjak mengajak ransel ungu ku untuk Mengikuti jejak anak itu. “kita impas” kata seseorang dari belakang dan ia tersenyum puas. Dan kini,akupun begitu. sama sepertinya.

*

Dua bulan telah berlalu menuju kelas tiga. Tak banyak hal yang bisa kulakukan. UN tepat di depan mata. Pastinya, sekolah akan memberikan les bertumpuk agar siswa SMA aluna bangsa lulus seratus persen. Hal itupun akan dilakukan mama untuk menyertakan guru privat datang kerumah menambah beratus ratus kepusingan yang akan kuhadapi. Tetapi semua itu berlalu begitu saja. Karena adina teman kecilku dan mungkin sahabat dewasa ku adalah orang yang tak henti-hentinya bersemangat menyemangatiku dalam hal apapun. Tapi, beberapa hari ini aku tidak melihat kehadirannya itu. Sepulang sekolah, kulihat dirinya langsung bergegas menunggu di halte. Tak ada dan tak pernah ia ucapkan satu katapun dengan sedang apa yang terjadi. Mungkin ia malas memberitahukannya. Sore ini, diparkiran sekolah, kucoba menunggu adina. Tapi, tak kunjung datang. Aku hanya melihatnya, jio. Anak yang mempersilahkan aku duduk. Kalau tidak salah..satu tahun yang lalu. Anak yang ada di bus. Dia juga salah satu teman dekatku. Tapi, tak terlalu. Mungkin hanya sebagai CLASSMATE  atau mungkin tetangga sebelah rumah..sebelahnya lagi. “kamu lagi ngapain?” tanya nya dengan sentuhan senyum tipis diwajah kecilnya. Tersentak mendengar pertanyaan itu. aku reflek menjawab “lagi nungguin adina”. “oh..tapi kayaknya adina udah pulang deh. Kamu nggak liat ya?” timpal nya lagi. Aku mulai kagok. Ternyata benar. Adina sudah memasuki angkot jurusan tanah abang. Aku mulai beranjak, tapi tiba-tiba jio mengajak ku untuk pulang bersama. Hari itu, hujan juga sudah mulai turun. Kami berdua tak sempat menuju halte. Tanpa payung,kami terpaksa menunggu didepan sekolah,hingga hujan berhenti. Dan saat itu juga aku mulai mengerti, ternyata aku menyukainya. hanya dalam beberapa banyaknya detik bersamaan butiran tetesan hujan. Kuharap dia pun begitu.

*

Adina mengakui dan mulai bercerita bahwa ibunya masuk rumah sakit dua bulan terakhir. Sakit jantung yang diderita ibunya semakin parah. Dan operasi pun telah selesai dilaksanakan. Aku turut sedih, bersamaan dengan…perasaan yang salah atau malah merelakannya.? Aku masih tak yakin. Sebenarnya ada apa? tak biasa dengan keadaan, aku malah pergi. Hari-hari berlalu, aku masih diam. Sudah cukup bicara rasanya. “faaaa” Teriak seorang dari ujung kelas. Kulihat syifa bersama…seseorang. RENO? Pikirku. “fa, hari ini jalan yok. Reno kan ulang tahun. Dia mau nraktir kita.” Ajak adina. Aku tak menyimak. Entah apa yang aku lamunkan saat itu. aku pergi tanpa menjawab iya atau tidak. Mungkin adina dan reno bertanya tanya mengapa? Yang jelas aku tidak..tidak berminat. Kali ini aku hanya ingin diam sediam diamnya. Tanpa satu suara apapun itu. ingin rasanya aku berlari. Biarkan lah hujan mengguyur seluruh tubuhku mengalir bersama air mataku.kulihat mereka pergi bersama,tanpa reno tanpa melihatku.  Jio..tak cukup dia. Orang lainnya..adina. dia yang membuat aku benar -benar terbahak bahak atau sebaliknya?

*

Mereka jadian. Dua kata. Apa? kenapa? Mengapa? Mungkin mereka berdua tahu alasannya. Reno juga. Dia tak sempat bicara. Akupun begitu.Tapi, kali ini duduk ditaman dan bicara adalah salah satu favoritku bersama reno. “kadang cinta itu memang maksa,ya?” tanya nya sembari memberiku sekotak jus jeruk. Aku masih diam dan dia melanjutkan lagi. “kamu tahu nggak. Kalo biasanya orang kalah karena kelemahannya sendiri. Tapi kamu beda, kamu nangis atau kamu lemah, karena, kekuaatan kamu itu.” Aku mulai mengusap airmata dan aku sadari ternyata masih ada orang yang lebih kuat dari tenaga seorang kuli. Reno. Dia sok bijak. Aku tahu, dia juga sama mengalami luka dengan yang aku rasakan. Malam itu, kuhabiskan berdua bersamanya. Bicara banyak. Dia yang paling tahu kalau aku benar benar mencintai jio. Dan juga reno yang sudah lama menyimpan perasaan sayang itu untuk adina. Kami tahu, waktu tinggal sebentar lagi dan akan menjadi kenangan. Dan berlalu bersama tinta hitam yang selalu memenuhi buku berwarna silver ini. Disitu, aku ungkapkan. Selain reno dan bantal kamarku.

*

Dia bilang dia sibuk. Sibuk entah dengan apa? sekali ini saja. Aku ingin bicara. Tak banyak. Hanya sederet untaian kata yang perlu adina tahu. “nanti aja ya, fa. Gue sibuk banget ngurusin pensi. Gue bisa kena marah sama rino, kalau gue nggak kerja.bye syifa.” Katanya. Adina telah melangkah lebih jauh dari deretan loker dekat bangku yang kami duduki. Aku tak mungkin hanya diam. “din..lo tu bisa nggak sih. Sebentar aja duduk lalu lo dengerin apa yang mau gue omongin, hah?” teriakku. Adina menghentikannya dan tetap tak berbelok. Kepala nya pun tidak. “gue bilang! Gue mau ngomong sama lo! Kenapa sih? Gue tau gue nggak berhak ikut campur. Tapi setidaknya lo ngerti. Ngerti perasaan reno. Reno, din. Reno. Nggak usah lo pikirin gue dulu.” adina masih diam. “lo tau siapa yang setia yang ada selalu buat lo. Yang ngirim boneka boneka lucu. Yang lo suka itu. yang ngerti lo. Yang nerima lo apa adanya. Siapa hah? Reno!” berbelok dan “gue tau semuanya. Tapi gua nggak bisa” jawabnya singkat “Cuma cewek bego yang nggak ngerti soal perasaan. Gue nggak ngerti sama lo.” Saat itu aku rasa, aku udah cukup banyak bicara. Biarlah..hanya tuhan yang tahu. Memang cinta nggak bisa jadi taruhan kamu suka atau nggak. Tapi pengorbanan yang perlu dinilai. Bicaralah dan kamu bakal tahu itu. bersama? Cinta nggak perlu memiliki.

*

Tawanya , senyum keduanya, dan hal hal manis lainnya. Aku sudah lupa. Kadang,teringat kembali. Tapi tak kupikirkan lagi. Setelah UN ini, aku siap berangkat menuju jogja. Sekilas, banyak hal yang masih aku bayangkan. Pertama kali bertemu di bus. Dua kalinya ditaman dekat sekolah dan ketiga, empat, lima, enam, seterusnya berubah menjadi suka. Tapi dia lebih tertarik untuk menjadi teman. Selama bertahun tahun..aku tak sempat mengingatkan diriku sendiri dan akhirnya terlepas. Hanyut entah kemana berlabuhnya. Lebih tepatnya adina. Menemani adina, bersama di dalam bus dan hanya aku yang menjadi hujan itu. Dan kali ini… “adina sekolah di amerika, tapi, bulan juni nanti kami mau tunangan” jawab nya membangunkanku dari lamunan. Tersenyum. Akupun begitu. Lalu diluar hujan. Berdiri karena ada orang tua yang harus dipersilahkan duduk. Terakhir. Berpegang di tiang bus kota. Hanya itu kenangan terakhir. Terkadang, berbagi itu adalah hal yang paling terindah. Lalu, haruskah merelakannya atau kehilangan untuk selamanya…

*

Kuselipkan surat ini atau kau bisa sebut apa saja agar tak ada lagi hal yang perlu ku ingat..untukku.

 Sudah, hari berganti bukan karena kau kehilangannya..

Sudah, angin berhembus bukan karena kau tak bersamanya..

Sudahlah, seseorang disana akan mengerti mengapa matahari itu selalu bersinar atau pelangi berwarna

Karena kau akan selalu memiliki hati nya dalam kenangan tak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s